Kamis, 17 Desember 2009

Perbedaan Oli Mineral, Sintetik dan Synthetic Blend

Perbedaan Oli Mineral, Sintetik dan Synthetic Blend . Di pasaran ditawarkan tiga jenis oli, yaitu mineral, semi-sintetik atau sekarang menggunakan istilah synthetic blend oil dan sintetik penuh (fully synthetic oil). Ketiganya tidak hanya harganya yang berbeda, juga kinerja atau daya tahannya.

Harga oli sintetik, bisa saja tiga kali oli mineral, tergantung spesifikasi atau rentang viskositasnya. Oili sintetik dengan rentang viskositas SAE 0W-60, harga per galon atau 4 liter bisa saja mencapai Rp 1,2 juta. Namun SAE tersebut sangat langka dan digunakan secara khusus.

Kini rentang viskositas yang mulai banyak digunakan adalah SAE 5W-30 dan 10W-40. Bahkan mesin sepeda motor, kini juga menggunakan SAE 10W-40 atau 15W-50.

Sementara itu, pabrik mobil dan sepeda motor, jarang merekomendasikan atau mengarahkan konsumen memilih salah satu dari ketiga jenis oli tersebut. Produsen kendaraan bermotor hanya menentukan klasifikasi SAE , misalnya 10W-40 dan API Service (SH, SL... dan seterusnya).

Lantas merekomendasikan, penggantian setiap 5.000 km. Kendati demikian ada pula yang sampai 10.000 km. Umumnya adalah untuk oli mineral pada kondisi normal. Untuk kondisi lebih berat, tentu saja lebih cepat lagi.

Mineral

Teknologi oli mineral juga terus berkembang, terutama proses pembuatannya bahan dasarnya. Alhasil, kualitasnya juga makin baik.

Salah satu produsen oli dan minyak terkenal di dunia, membagi oli mineral pada tiga kategori, yaitu, mineral konvensional yang berasal dari minyak mentah, oli mineral dengan hydroproses (highly refined) dan oli mineral yang dibuat dengan hidroproses yang lebih rumit (ultra-refined).

Kendati demikian, kinerja oli mineral belum bisa mengalahkan oli sintetik. Pasalnya, ukuran molekul oli mineral berbeda-beda atau tidak konsisten. Hal ini menyebabkan oli mineral mengandung kotoran dengan kadar cukup tinggi. Akibat selanjutnya, daya tahannya saat digunakan, terutama pengaruh panas, oksidasi dan gesekan, lebih pendek dibandingkan oli sintetik.

Sintetik

Sedangkan oli sintetik, karena dibuat di laboratorium, ukuran molekul konsisten atau sama. Hasilnya, punya daya tahan lebih baik dibandingkan dengan oli mineral.

Oli sintetik masa kini juga dibuat secara kimia, yaitu polyalphaolefins (PAO). Kendati demikian, bahan dasar oli sintetik yang paling umum adalah gas ethylene. Gas ini tidak mengandung atau membawa kotoran seperti oli mineral. Kondisinya mirip dengan air murni yang diperoleh dari penyulingan.

Semi-Sintetik

Lantas bagaimana dengan oli semi-sintetik atau synthetic blend oil? Ini adalah istilah baru untuk oli semi-sintetik. Ini adalah campuran antara oli mineral dengan sintetik (berarti mineral dan sintetik bisa dicampur). Umumnya, kadar bahan oli sintetik yang dikandung pada oli semi-sintetik sekitar 10–25 persen. Dalam hal ini, untuk mineral yang digunakan bisa saja salah satu dari tiga yang disebutkan di atas, konvensional, highly refined dan ultra-refine! ( kompas.com )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Recommended Post Slide Out For Blogger